Pengumuman: Blog saya mo Pindah

Buat temen-temen yang mungkin berkunjung kesini, terima kasih atas kunjungannya. Tapi kemungkinan, saya akan lebih banyak posting di blog baru saya: http://www.artina-zone.co.cc.

situs gratisan memang, tapi ini adalah awal bagi saya yang newbie dibidang web untuk melangkah ke taraf selanjutnya: “menggunakan domain dan hosting premium”.

Demikian pemberitahuan dari saya. Terima kasih atas perhatiannya.

Salam blogger…

ardhie_rachman

Mati Di Dalam Mobil Karena Keracunan Gas CO

Berikut berita dari Kompas.com tentang dua orang mahasiswa yang meninggal didalam mobil yang diparkir dalam keadaan menyala di Ancol beberapa waktu lalu:

Sepasang kekasih, Hery Arief Sutisna (22) dan Mega Purnama (21), ditemukan tewas di dalam mobil Kijang Innova B 8636 YQ, yang terparkir menyala di Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara (Jakut), Senin (16/6) pukul 06.30. Keduanya diduga tewas karena mengirup karbon.

Wakil Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Santoso menjelaskan, pada pukul 06.30 petugas kebersihan bernama Badri (28 ) menemukan kedua mayat mahasiswa tersebut di dalam Innova abu-abu muda kehijauan metalik. Keduanya dalam posisi duduk di bangku masing-masing. Namun, menurut Kepala Kepolisian Sektor Metro Pademangan, jenasah dalam posisi 69, berbaring.

“Berdasarkan hasil otopsi di RSCM, kedua korban kami perkirakan meninggal karena menghirup karbon. Ketika ditemukan petugas kebersihan, seluruh jendela mobil tertutup, sedangkan mesin masih menyala. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan,” papar Santoso.

Ia menambahkan, Hery adalah mahasiswa STEKPI Kalibata, Jakarta Selatan, dan Mega adalah mahasiswi Interstudy. Hery yang kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1986, beralamat di Jalan Pisangan Lama III, Jakarta Timur. Sementara itu, Mega yang kelahiran Jakarta, 14 Januari 1987, beralamat di Kampung Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan.

Dalam kasus ini, Polsektro Pademangan menyita Innova dan empat telepon selular, serta memeriksa dua saksi, Badri dan Agus Nanang bin Jumadi (31)

Ck ck ck ck,,, Anda tentunya tidak ingin ajal menjemput anda dalam keadaan seperti itu… Namun berikut artikel lainnya dari sumber yang sama yang intinya bahwa mati dengan keadaan seperti itu ternyata tidak sakit…!!! Cara yang bagus kalau anda hendak bunuh diri -becanda koq-… :-D

Kematian yang disebabkan oleh keracunan karbon monoksida (CO) adalah kematian yang tidak pernah disadari. Gejalanya pun “menyenangkan”, merasa rileks dan berhalusinasi. Korban keracunan jarang sekali bisa menyelamatkan diri dari kondisi sekitar yang penuh gas CO.

Dokter Elisna Syahrudin Sp P dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Persahabatan Jakarta, bahkan menyebut mati akibat keracunan gas CO sering disebut “mati indah”.

“Karena tanda-tandanya memang merasa rileks, di mana mati yang begitu namanya mati indah,” ujar Elisna ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (16/6), berkait dengan kembali ditemukannya pasangan muda-mudi yang tewas akibat keracunan gas CO di dalam mobil di Ancol, kemarin.

Secara medis, katanya, gas CO adalah kompetitor dari Hemoglobin Oksida (HbO) yang mengikat oksigen dan mengantarkan ke paru-paru dan ke seluruh sel tubuh, mulai dari otak hingga sel-sel tubuh lainnya. Ketika gas CO terhirup berlebihan, maka gas ini mengikat lebih kuat sehingga meghalangi Hemoglobin darah mengikat oksigen.

“Padahal yang disebut bernafas adalah (menghirup) oksigen dari luar masuk ke darah, diikat Hemoglobin, baru diantarkan ke sel-sel tubuh. Jadi kalau CO menghalangi, ya sel-sel tubuh itu tidak mendapat oksigen,” ujar Eslina. Otak, katanya, termasuk sel tubuh yang akan berhenti bekerja jika tidak menerima pasokan oksigen lebih dari delapan menit dan akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh yang lain.

Menanggapi kasus kematian sepasang muda-mudi di dalam mobil yang terjadi di kawasan Ancol kemarin, Eslina mengatakan, kemungkinan terbesar adalah terjadi kebocoran knalpot sehingga menyebabkan gas CO masuk ke dalam ruangan mobil. Kematian akhirnya juga dipengaruhi aktivitas yang dilakukan di dalam mobil itu. Semakin besar aktivitas, semakin cepat kematian merenggut.

“Kita nggak tahu apa yang dilakukan mereka. Tapi kalau sambil melakukan sesuatu apa gitu, kan bernafasnya lebih cepat, tarikan oksigennya dari paru lebih cepat. Nah yang tinggal cuma CO,” ujar Eslina. Karena itu, ia mengimbau untuk tidak menutup penuh kaca mobil ketika hendak tidur atau bersantai di dalam mobil.

Dokter spesialis paru ini juga mengingatkan bahwa kasus keracunan juga sering terjadi di kawasan dingin, di mana masyarakatnya sering menggunakan kayu bakar untuk menghangatkan ruangan atau bahkan badan. “Padahal, itu berpotensi mengakibatkan kematian jika kayu bakarnya masih basah atau tidak terlalu kering,” katanya.

Eh ya, judul artikel itu adalah “ Keracunan Gas CO = Mati Indah”… Judul yang menggiurkan! Tapi bener juga seh kalo artikel diatas ga salah.

Nah, sekarang, inti dari posting ini: Bagaimana menghindari kematian karena gas CO di dalam mobil..!? Karena tentunya setelah anda membaca artikel diatas, anda akan sedikit berfikir untuk tidak mengendarai mobil dengan AC hidup, apalagi tidur didalamnya. Berikut artikel dari Kompas.com juga tentang solusi masalah tersebut diatas.

Berulangnya peristiwa meninggalnya para pengendara mobil karena diduga keracunan gas karbonmonoksida yang berasal dari kebocoran AC mobil, tentunya mengundang keprihatinan. Apa yang menyebabkan kebocoran tersebut, dan apa yang bisa dilakukan pemilik mobil untuk menghindari hal tersebut?

Pemilik sekaligus teknisi AC mobil dari Umara Auto, di Pasar Mobil Kemayoran, Abu menjelaskan, kebocoran tersebut disebabkan ada kebocoran pada selang AC. Penyebab kebocoran, tentu saja karena kurang perhatian dan perawatan terhadap AC mobil.

Bagaimana mendeteksinya? “Biasanya kebocoran itu karena jarang diservis, jarang diteliti. Seharusnya freon, cek oli di dallam kompresor AC, kadang suka membeku. Orang punya mobil kalau terlalu sibuk, kadang kurang memperhatikan, taunya bawa doang. Mendeteksinya memang susah, selang bocor itu biasanya karena meledak. Nah, pas meledaknya itu kadang nggak tahu, karena seringnya nggak ada suara apa-apa,” jelas Abu yang ditemui di bengkelnya.

Teknisi lainnya dari Hering Auto di lokasi yang sama, Sarno berpendapat, kebocoran AC mobil biasanya disebabkan kerapuhan pada ekspansi AC. Usia ekspansi, menurutnya hanya 1 tahun. Selebihnya berisiko rapuh dan menyebabkan kebocoran pada selang AC. “Tapi inilah yang kurang diperhatikan. Kita paham, pemilik mobil mungkin nggak tahu detil sampai ke sana. Yang paling baik, ya servis biar semuanya diteliti. Apalagi ekspansi. Paling tidak minimal 1 tahun sekali harus diganti. Penyakit pemilik kendaraan kan, kalau AC belum berasa panas, nggak akan dicek,” kata Sarno.

Menandai kebocoran selang AC, selain tercium bau menyengat –menurut Abu seperti bau gas elpiji– juga kadang muncul suara berisik dari AC mobil. Saat terjadi seperti ini, kedua teknisi tersebut menyarankan agar segera mematikan AC dan membuka kaca mobil. “Kalau terjadi kebocoran, lebih berbahaya saat mobil berhenti. Kenapa? Karena kalau dalam kondisi mobil berjalan, masih ada sirkulasi udara yang berputar. Kalau berhenti, gas karbon itu akan terkurung gitu aja,” ujar Sarno.

Sementara Abu menambahkan, “Kalau lagi istirahat, seringnya orang itu ya, mesin nyala, AC nyala, kendaraan berhenti. Ini lebih bahaya. Kalau mau istirahat, mesin dan AC tidak perlu dinyalakan, sudah buka kaca mobil saja. Pas mobil berhenti, dengan keadaan mesin dan AC menyala juga memberi peluang meledaknya selang AC,” kata dia.

Baik Sarno maupun Abu menyatakan tak sepakat bahwa kebocoran gas karbon yang terhirup pemilik kendaraan berasal dari knalpot. Menurut mereka, tak ada hubungannya sama sekali dengan knalpot. “Nggak ada hubungannya dengan knalpot. Yang mematikan itu hanya dari AC. Selang AC bocor, baunya (gas karbon) ke dalam, gas karbon terhirup, ini yang menyebabkan kematian,” ujar Abu.

Solusinya? Tak ada pilihan lain, selain melakukan servis AC mobil secara rutin. Minimal 6 bulan sekali. Jika seseorang menghirup gas karbonmonoksida, akan menghambat pengikatan oksigen oleh darah. Hal ini dapat mengakibatkan darah kekurangan oksigen, sehingga menimbulkan pusing pada si penghirup. Tak hanya pusing, bahkan dapat mengakibatkan pingsan dan kematian.

Akhirnya, semoga postingan ini bermanfaat untuk anda yang tidak ingin bunuh diri dengan mengendarai mobil… :-D

Terima kasih…

Kasus Max Moein, Contoh Skandal di Gedung Dewan

Foto syur -yang ga syur-syur amat- akhirnya menguak kasus baru “pelecehan seksual Max Moein terhadap Desi Firdayanti, mantan sekertarisnya”. Ujung-ujungnya PDIP sebagai “kendaraan” Max untuk masuk ke Gedung Dewan me-nonaktifkan Max Moein dari Dewan Perwakilan Rakyat, keputusan ini diambil oleh PDIP guna melakukan penyelidikan intern tentang kasus yang menimpa Max Moein tersebut. Meski begitu, Max belum secara resmi “ditarik” dari kursinya di Dewan yang artinya, masih “makan” dari gaji sebagai anggota dewan yang tentunya adalah uang rakyat.

Kita ke kasus foto syur Max dengan Desi. Apakah benar Desi pernah berfoto dengan Max Moein..!? “Pernah seh. Untuk kenang-kenangan kata Bapak, kalo lagi kangen atau apa, saya ga ngerti” demikian pengakuan Desi. Pernyataan ini secara tidak langsung membenarkan bahwa foto yang beredar di internet saat ini adalah benar foto Max Moein bersama Desi Firdayanti. Terlepas foto itu hasil rekayasa photoshop atau bukan, menurut pengakuan Desi, foto itu diambil di kamar salah satu hotel bintang lima di Jakarta sekitar bulan Desember 2004.

Ada Apa Antara Max dengan Desi..!?

Versi Desi - Max Moein adalah mantan atasannya di gedung Dewan. Selama bekerja pada Max, Desi mengaku acap kali dilecehkan di ruangan Max -yang selalu dikunci dari dalam dan telepon diangkat agar bernada sibuk-. Menurut pengakuan Desi juga, pelecehan dilakukan dengan memasukkan jari Max ke Vagina Desi -yang dimasukin 2 jari lho..!!!-. Ini dilakukan berkali-kali di ruangan Dewan -yang dibuat dengan dana rakyat- sampai akhirnya Max mengajak Desi untuk check in di sebuh hotel berbintang lima di Jakarta. Disanalah, menurut Desi, pertama kali Max Moein memasukkan penisnya ke vagina Desi. Kita tidak tahu apakah ada peristiwa kedua, ketiga dan seterusnya.

Versi Max -  Desi adalah mantan sekretarisnya di gedung dewan yang berhenti bekerja padanya karena “mengambil” laptop -kata-kata Max saat wawancara “…karena dia memba.. mengambil laptop yang saya beli untuk saya…” kurang meyakinkan banget kalo Desi mencuri-.

Versi Wakil Ketua BK (Badan Kehormatan) DPR - Desi adalah wanita penggoda yang sering mengajak kencan pria yang telah beristeri. bahkan Desi sempat menjadi penyebab keretakan keluarga salah seorang anggota dewan -tidak disebutkan siapa-.

Menurut kronologis yang dibuat Desi sebagai barang bukti yang diserahkan kepada BK-DPR dan diakui sebagai bukti yang hilang oleh LBH-APIK, Max Moein beberapa kali mencairkan dana untuk keluarga Desi dengan jumlah total mencapai puluhan juta rupiah…!!!. Anda tentu akan berfikir: “ada apa sebenarnya antara Max Moein dan Desi..!?”. Apakah Desi dulunya “simpanan” Max..!? Atau Desi ternyata adalah seorang PSK yang berkedok sekertaris yang bekerja di gedung Dewan..!? -ini karena Desi mengaku membawa pulang laptop dan printer untuk dipelajari. Masa sekertaris ga bisa pegang laptop..!?- Apakah hanya Max Moein yang pernah “menggunakan jasa” Desi..!? Entahlah, hanya mereka-mereka yang dekat dengan Max dan Desi yang tahu.

Kejanggalan dalam Kasus Max Moein

1. Desi melaporkan Max Moein pertama kali dengan tuduhan PHK sepihak dan dituduh mencuri laptop pada tahun 2004. Ruhut Sitompul, SH lah yang menjadi pengacara Desi pada waktu itu. Sedangkan tuduhan pelecehan seksual oleh Max baru dilaporkan setelah 3 tahun lebih berlalu.

Desi mensomasi Max melalui Ruhut tentunya bukan karena Desi ingin kerja lagi, tapi karena ingin minta “pesangon” setelah menjadi “sekertaris plus-plus” nya Max Moein. Bang Ruhut bukan pengacara sembarangan, jadi begitu mencium adanya tujuan tersembunyi dari Desi, kemungkinan bang Ruhut melimpahkan kasusnya ke LBH-APIK karena dengan melalui LBH-APIK, tuduhan pelecehan seksual dapat menjadi senjata yang ampuh dalam proses untuk mendapatkan “pesangon” dari Max. Tapi ternyata masih gagal, maka biar sekalian pada ancur, ekspos aja ke media, salah satu caranya adalah dengan menyebarkan foto Desi dengan Max. -Ini menurut analogi saya lho, kalo salah jangan marah-.

2. Pencairan dana dengan jumlah yang lumayan jika akan digunakan sebagai “gaji” atau “bonus” untuk Desi.

Memang ga masuk akal jumlah bonus yang diterima oleh Desi, jika dibandingkan dengan kemampuannya yang “dibawah standard” sebagai sekertaris -belajar pegang laptop ajah setelah bekerja ma Max Moein-. Tapi kalo Desi juga memberikan “pelayanan” melebihi jam kantor , kita tidak perlu heran dengan jumlah uang yang dihasilkan oleh Desi dari keahliannya dalam bidang “gesek-menggesek”.

3. BK-DPR terkesan menutupi kasus ini sebelum media mengekspose kasus ini ke masyarakat sejak beredarnya foto Max dengan Desi.

Ya iyalah, namanya juga Badan Kehormatan, tugasnya menjaga kehormatan dan keagungan nama Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Jadi kita ga perlu tau masalah-masalah seperti itu sebenarnya. Mungkin juga BK sudah memberikan nasehat pada Max untuk memberikan “pesangon” kepada Desi, tapi ternyata Max tidak memberikan “pesangon” dimaksud. Toh ujung-ujungnya Max yang kena batunya. Coba begitu Ruhut mendatangi Max untuk meminta “pesangon” karena diberhentikan secara tidak hormat, Max langsung ngasi, saya yakin kalo Foto yang beberapa waktu lalu banyak dicari di internet (blog saya kebagian 3.000an pengunjung dalam satu hari yang pengen ngeliat foto syur ntu) tentunya ga akan beredar seperti sekarang ini.

Baiklah, sekarang kita anggap Desi adalah -secara kasarnya- PSK di gedung DPR (mungkin kenyataannya ga kayak gitu, jadi kalo salah saya mohon maaf pada pihak terkait ), kenapa Max tidak mau “membayar” Desi..!? Apakah karena “pelayanan” Desi sudah membosankan bagi Max..!? Apakah Desi “meminta” terlalu banyak pada Max (memeras Max)..!? Atau Max sudah punya “sekertaris” baru yang lebih baik dari Desi..!?

Entahlah… Biar mereka saja yang tahu, saya hanya mencoba menuangkan apa yang terlintas difikiran saya tentang kasus ini. Secara beberapa orang pejabat yang saya kenal ternyata memang seneng “main wanita”. Jadi fikiran saya ya kayak gitu. Wanita memang bisa menjadi penyejuk bagi kaum pria, tapi tak sedikit pria hancur karena wanita. Karenanya, “marilah kita setia pada pasangan kita” agar tidak tertular HIV/AIDS (hampir ga ada hubungannya ). :-D

— sekian —

baca juga gambar syur max moein