Bayang-bayang Mafia Rusia di Jakarta

KEBERADAAN mafia dan penjahat asal Rusia menambah tebal kamus kejahatan di Jakarta dan Republik Indonesia. Pemerasan, perdagangan manusia untuk dilacurkan, penyelundupan senjata gelap, obat, dan penculikan menjadi trademark mafia Rusia di dunia internasional.

Sepak terjang mereka juga mencuat di Jakarta, setidaknya dalam kasus penculikan seorang warga negara Rusia, yang diakui Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono dalam jumpa pers akhir tahun 2008, Senin (29/12).

“Pengungkapan kasus penculikan warga negara Rusia oleh Polda Metro Jaya merupakan salah satu prestasi tahun 2008,” kata Wahyono.

Menurut Wahyono, para penculik adalah Magzeb Gerrybaev, Igor Soslino (warga negara Rusia), dan Richard Sihite serta Jenny Aritonang (warga negara Indonesia). Mereka diduga menculik Hatuntzev pada 29 November 2008.

Ketika itu, Hatuntzev dirayu untuk berbisnis di Indonesia. Alih-alih menangguk untung, setiba di Jakarta, Hatuntzev diduga diculik komplotan tersebut. Mereka pun meminta tebusan kepada istri Hatuntzev.

Istri Hatuntzev lalu mentransfer uang empat kali, masing-masing sebanyak 4.600 dollar AS atau total 18.400 dollar AS. Uang ditransfer dari sebuah bank ke sebuah cabang bank di Bekasi dan Jakarta.

Meski demikian, para penculik belum mau membebaskan korban. Mereka menuntut sisa uang tebusan yang belum diserahkan. Polisi yang mendapat laporan segera memburu kawanan penculik. Hatuntzev sudah dipulangkan tersangka penculik ke Moskwa ketika polisi akhirnya menangkap para penjahat.

Itulah salah satu kisah kejahatan yang melibatkan warga Rusia di Jakarta. Kisah penculikan tersebut adalah puncak dari gunung es jejaring kejahatan mafia Rusia.

Beberapa tahun lalu, sebuah pesawat kargo carter Rusia membawa hewan langka yang diduga diselundupkan dari wilayah Indonesia, menghilang setelah sempat mengaku akan mendarat di Medan, Sumatera Utara.

Salah satu kasus besar lain adalah penangkapan Victor Bout, pedagang senjata gelap internasional di Bangkok, Thailand. Penangkapan Victor yang memiliki pelbagai pelanggan dari kelompok teror dan kejahatan menambah bukti betapa luas jaringan mafia Rusia.

“Natasha for Sale”
Salah satu modus kejahatan mafia Rusia yang berkembang sejak tahun 2000-an di Jakarta adalah perdagangan perempuan asal Eropa Timur. Dalam istilah populer para perempuan asal Eropa Timur itu disebut sebagai “Natasha for Sale” atau “Natasha yang Dijual” (Natasha adalah salah satu nama pasaran perempuan Rusia).

“We transited in Kuala Lumpur before dispersed to various destination. Someone arrange for our trip to Jakarta. Sometime we also have our holiday in Bali (Kami transit di Kuala Lumpur sebelum disebar ke pelbagai tujuan akhir. Ada yang mengatur perjalanan kami ke Jakarta. Terkadang kami juga diizinkan berlibur ke Bali),” kata—sebut saja— Svetlana, seorang perempuan Muskovitch (warga Moskwa) yang ditemui di sebuah panti pijat M di bilangan Jakarta Pusat dekat Istana Negara.

Svetlana menjelaskan, dia bersama rekan-rekan lain yang bekerja sebagai lady escort dan tenaga pijat plus direkrut dari pelbagai wilayah Rusia dan negara-negara pecahan Uni Soviet.

Charles L, wartawan kriminal di Malaysia, mengakui, posisi Kuala Lumpur yang strategis sebagai penghubung ke wilayah Asia Tenggara telah dimanfaatkan jaringan perdagangan manusia. “Salah satu pemain adalah kelompok Rusia,” katanya.

Olga, nama samaran perempuan Uzbekistan yang ditemui di panti pijat S di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menambahkan, mereka bekerja untuk kurun waktu tiga bulan hingga enam bulan.

Bersama para perempuan Eropa Timur itu terlihat beberapa pria yang diaku sebagai Tovarich (teman, dalam bahasa Rusia).

Rg, seorang “papi” alias mucikari pria di tempat hiburan SS di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, mengatakan, para pria Rusia itu adalah agen yang mengurus para perempuan Eropa, khususnya asal Eropa Timur.

Trafficking perempuan Rusia dan Eropa Timur memang menjanjikan untung besar. Biaya kencan yang dikenakan kepada tamu berkisar 150 dollar AS atau Rp 1,5 juta untuk kencan singkat dua jam. Padahal, di negara asal Rusia dan pecahan Uni Soviet, tarif kencan para pelacur asing itu hanya berkisar maksimum 50 dollar AS!

Pekerja seks Rusia rata-rata fasih berbahasa Inggris dan tidak sekadar berbicara da dan nyet (ya atau tidak) saja. Berbeda dengan pekerja seks asal Tiongkok yang umumnya tidak fasih berbahasa Inggris.

Cahyadi, seorang pelaut Indonesia yang kerap singgah di Saint Petersburg, Rusia, menjelaskan, tarif kencan pekerja seks Rusia dengan wajah secantik, bahkan sering kali lebih cantik dari bintang film berwajah Indo di Jakarta sangat murah.

“Paling mahal biaya kencan dengan mereka hanya 50 dollar AS untuk ‘short time’. Tidak aneh banyak perempuan Eropa Timur memilih jadi PSK di luar negerinya seperti di Asia Tenggara,” kata Cahyadi yang lebih dari lima tahun menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Eropa.

Walhasil, keberadaan perempuan Rusia dan Eropa Timur di tempat hiburan di Jakarta serta kota besar di Indonesia pun menjamur. Kehidupan malam Jakarta pun makin semarak dengan kehadiran “Natasha for Sale”.

Jenis kejahatan lain pun membayang dengan adanya mafia Rusia di Nusantara. Kepala Unit II Badan Narkotika Nasional Komisaris Besar Siswandi mengatakan, meski belum pernah terungkap, bukan tidak mustahil mafia Rusia juga terlibat dalam jaringan peredaran heroin dengan menumpang jaringan Narkoba Bulan Sabit (Crescent Moon). Jaringan ini beranggotakan sindikat Iran, Afganistan, dan Pakistan.

Organisatziya alias mafia
Globalisasi mafia Rusia hingga ke Asia Tenggara dan Indonesia merupakan dampak kegagalan ekonomi Uni Soviet. Uni Soviet, yang kuat secara militer, dibebani birokrasi dan politis korup, akhirnya bangkrut.

Mantan birokrat dan militer serta petualang terjun ke dunia kejahatan yang dikenal sebagai “Organisatziya” atau diterjemahkan sebagai “Organisasi”, yakni sebutan mafia Rusia. Peneliti Asia Tenggara asal Jepang, Aizawa Nobuhiro, menjelaskan, kelompok mafia Rusia sangat beragam dari latar sosial, budaya, dan suku bangsa.

“Bahkan, di kota Wladiwostok yang berbatasan dengan Jepang, Tiongkok, dan Korea, yang berkuasa adalah kelompok Rusia keturunan Korea. Mafia Rusia juga beroperasi di Jepang dan Asia Tenggara,” kata Nobu.

Terbukanya Rusia bagi kapitalisme seiring kegagalan ekonomi sosialis-komunis telah mencetak orang kaya baru. Tidak sedikit dari orang kaya baru juga melibatkan diri atau bersentuhan dengan Organisatziya.

Jm, seorang manajer tempat wisata di Bali, mengaku, pada bulan tertentu wisatawan Rusia mencarter pesawat ke Bali. “Mereka memesan hotel bintang lima. Mereka membayar dengan uang dollar AS tunai,” kata Jm.

Letnan Kolonel S, seorang perwira TNI yang beberapa tahun bertugas di Eropa Timur, berkata, tidak aneh jika pergerakan manusia dari Rusia ke Indonesia begitu intensif.

“Saya tahu ada WNI yang aktif di Chechnya. Sebaliknya, orang-orang Rusia juga kami pantau kegiatannya, tetapi mengungkap jaringan kejahatan terorganisasi memang sulit,” kata dia.

Kini, mafia Rusia alias Organisatziya menambah pekerjaan rumah Kepolisian Republik Indonesia. (IWAN SANTOSA)

ONG
Sumber : Kompas Cetak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Sejak tanggal 3 Mei 2008 tercatat

    • 372,290 pengunjung
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 120 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: