Seks Perkara Biasa bagi Remaja?

Dampak negatif dari kemajuan Teknologi Informasi atau yang lebih keren disebut IT tampaknya paling parah menimpa remaja di negeri ini. Bagaimana tidak, dari hasil survei Komisi Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia ditemukan bahwa 62,7 persen dari responden mengaku pernah berhubungan badan. Responden yang tidak pernah berciuman hanya 7 persen saja dan yang paling miris adalah 21 persen diantara mereka pernah melakukan aborsi!

Apakah penyebab dari hasil survei yang sangat menyayat ini? Mungkin bagi remaja, seks sudah dianggap biasa, dan bukan merupakan hal yang tabu. Terbukti dari banyaknya video-video pribadi yang direkam oleh remaja kita yang merekam diri mereka sendiri saat berhubungan seks. Inikah dampak negatif modernisasi? Atau dampak negatif teknologi?

Peran institusi pendidikan dalam hal ini adalah sangat krusial sekali. Betapa tidak, sebagian besar remaja Indonesia adalah pelajar, dan institusi yang paling tepat untuk melaksanakan “perbaikan” dalam hal ini tentunya adalah sekolah. Namun, tak jarang kita mendengar skandal pendidik yang justru memperkosa muridnya sendiri! Sebuah ironi yang sangat menyayat ditengah tingginya efek negatif teknologi saat ini.

Mungkin sudah saatnya pemerintah mulai memikirkan kurikulum khusus yang membahas mengenai seks kepada remaja. Meski dianggap tabu oleh masyarakat kita yang masih -mengaku- orang timur, namun para remaja bisa dengan mudah -dan murah- mengakses konten yang berbau pornografi dengan berbagai macam cara yang hampir tidak mungkin untuk dibendung oleh siapapun.

Intensitas komunikasi orang tua dengan anak juga perlu ditingkatkan dalam memberi pengetahuan tentang seks. Bagaimana mendidik anak agar tidak terjerumus dalam “seks bebas” yang tampaknya sudah merajalela di negeri ini. Ketika remaja sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan ceramah dari para ustadz yang namanya banyak “dirusak” oleh rekan seprofesinya, ketika pengaruh buruk dari luar semakin merongrong, ketika orang tua semakin sibuk dengan kegiatan “mencari sesuap nasi”, siapa yang bisa diandalkan untuk mencegah ini? Saya tidak tahu pasti.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman perempuan saya yang masih duduk dibangku SMA bahwa ada beberapa teman mereka yang “nekat” melakukan hubungan seks diruang kelas mereka. Dan meskipun ketahuan, mereka tidak merasa malu sedikitpun! Lalu, orang tua yang terlalu paranoid dengan cerita ini apakah harus menelantarkan pendidikan anaknya? Atau harus memasangkan “celana dalam besi” pada anak perempuannya? Atau harus bagaimana?

Permasalahan demi permasalahan terus muncul seiring perkembangan zaman. Penyelesaiannya pun tentunya ada. Dan karena ini telah menjadi masalah bangsa ini, tentunya campur tangan pemerintah sangat penting dalam hal ini. Semoga saja pemerintah republik ini bisa menemukan jalan terbaik secepatnya, karena hal ini tidak akan membaik dan terus memburuk selama belum ditemukan penyelesaiannya.

Jika Anda punya ide, silahkan dituangkan di kolom komentar, terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Sejak tanggal 3 Mei 2008 tercatat

    • 368,557 pengunjung
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 119 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: