Jones dan Media Sosial

Udah lama gak posting neh, mumpung ada yg lagi pengen ditulis ya udah posting ajah. 

Kalau Anda sampai di halaman ini, pasti Anda sudah tau definisi jones dan media sosial, klo belum tau, monggo gugling ajah di yahoo,,, —garing

Saya tertarik melihat korelasi kedua hal yang menjadi judul postingan ini setelah beberapa bulan terakhir ini ldr-an ma bini (curcol), saat bini lagi gak bisa menghubungi karena kendala pulsa (atau aye yang kagak punya pulsa) status saya jadi seperti jomblo- Aye gak jomblo lho ya, cuman ldr doank- yang saban hari mantengin media sosial maupun aplikasi-aplikasi chating untuk sekedar kepoin para penggunanya. Kejombloan seseorang dimasa sekarang ini sungguh sudah merupakan aib. Bahkan bagi yg ldr-an kayak saya juga saban hari di jadiin bahan bully buat temen-temen deket. Gak bisa ngobrol sama temen cewek-yg notabene lagi ngomongin urusan kerjaan- langsung di ributin.

Untungnya ributnya bukan di media sosial, meskipun saya tidak terlalu khawatir karena teman-teman di media sosial saya sebagian besar adalah orang-orang yang juga saya kenal secara fisik di dunia nyata. Namun, tak sedikit pengguna media sosial menjadikan media sosial sebagai tempat membully mereka, dengam komposisi teman yang rata-rata hanya teman dunia maya, maka hal tersebut lebih cepat menjadi viral dan akhirnya berdampak pada semakin akutnya status jomblonya, atau malah menjadi gelap mata dengan mendekati semua lawan jenisnya di media sosial tanpa memandang apakah yang didekatinya beratatus jomblo ataukah berpacaran dan bahkan sudah menikah!

Dari perburuan membabi buta itu, mengakibatkan hal negatif yang kepada pelakunya, disamping beberapa keberhasilan tentunya. Hal negatifnya adalah ketika si pelaku akhirnya di cap playboy/playgirl karena kebanyakan mengejar lawan jenisnya, sehingga kepercayaan orang menjadi berkurang dan semakin membuatnya terpuruk dengan status jomblonya, atau dia menjadi perusak hubungan orang, yang tak sedikit adalah hubungan suami istri.

Mudahnya akses internet dan kurangnya pendidikan tentang dunia maya dan penggunaannya, menyebabkan angka perselingkuhan (gak pernah ngitung/survey, hanya analogi) meningkat. Yang awalnya hanya temenan di media sosial, lama kelamaan menjadi temen jalan dan akhirnya menjalin hubungan spesial. Khususnya bagi lelaki di negeri ini, media sosial dijadikan sarana berburu wanita, padahal status si pria sudah menikah dan memiliki anak, yang akhirnya mengurangi populasi wanita jomblo di Indonesia dan meningkatkan populasi pria dengan status jones.

Agak bingung mau nutup tulisan ini, tapi ya itulah yang terjadi di sekitas saya saat ini. Begitu banyak jomblo, dan menciptakan lebih banyak lagi lgbt disekitar kita. Semoga ini hanya proses belajar dan tidak menjadi tren.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Sejak tanggal 3 Mei 2008 tercatat

    • 372,290 pengunjung
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 120 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: